Tahapan Penikahan adat Karo

Semua suku di Indonesia memiliki tata cara tersendiri dalam melaksanakan adat pernikahan. Adat karo contohnya, adat yang cukup ribet jika seluruh prosesi adatnya dilaksanakan. Tahapan-tahapan menuju pesta perkawinannya pun banyak dan menghabiskan waktu yang cukup lama.

Desa Lau Simomo Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo mempunyai kebiasaan tersendiri dalam pelaksanaan pesta pernikahan. Prosesi pernikahan adat disana diserahkan kepada Anak Beru Tua (pemuka adat-red) sebagai protokol dan pengatur jalannnya acara tersebut. Bulang (kakek-red) Munthe Ginting Munthe, lelaki berumur 75 tahun salah satunya. Bulang sudah menjadi Anak Beru Tua semenjak 30 tahunan yang lalu. Karena pengalamannya yang tidak bisa diragukan lagi, semua warga masih saja memintanya untuk menjadi Anak Beru Tua sampai saat ini. Walaupun Bulang tidak mendapatkan upah dari profesi itu, namun menjadi Anak Beru Tua adalah suatu kehormatan yang sangat tinggi dan sakral.

Diawali dengan acara Nungkuni atau yang sering kita sebut dengan Meminang. Nungkuni adalah acara pelamaran gadis oleh keluarga laki-laki. Setelah resmi dilamar, diadakan musyawarah kedua belah pihak untuk menentukan kapan melaksanakan Mbah Belau Selambar.

Mbah Belau Selambar secara harfiah artinya membawa sirih selembar, memiliki makna atau simbol bahwa sirih, kapur, tembakau dan pinang di dalamnya. Tembakau adalah interaksi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sekapur sirih adalah simbol penghormatan dari pihak tamu kepada tuan rumah atau penyampaian rasa hormat dari pihak keluarga calon pengantin laki-laki kepada  keluarga calon pengantin perempuan.  Mbah belo selambar ini prosesi menanyakan keikhlasan para calon pengantin, orang tua calon pengantin, sirembah kulau (bibi calon pengantin perempuan) dan singalo ulu emas (paman calon pengantin laki-laki). Setelah keikhlasan pihak tercapai, maka pembicaraan  dilanjutkan kepada penentuan pelaksanaan Nganting Manuk, membicarakan batang unjuken (uang mahar bagi pihak  keluarga perempuan).

Tidak sembarangan, jumlah Batang Unjuken juga ditentukan dan diatur secara baik. Desa Lau Simomo mempunyai angka tersendiri untuk jumlah uang yang akan diberikan, yakni sekitar Rp. 560.000. Mengingat angka 5 dan 6 dianggap bilangan bagus dalam adat karo, maka ditentukanlah jumlah itu. Namun jumlah ini tidak baku, bisa saja jumlahnya lebih banyak atau lebih sedikit tergantung kemampuan pemuda yang akan melamar

Tak hanya jumlahnya, pembagiannya pun diatur. Pertama, 2/3 dari jumlah Batang Unjuken diberikan untuk Berei-berei. Yakni saudara laki-laki dari ibu si gadis (Tulang-red). Kedua, 2/3 dari jumlah uang Berei-berei diberikan untuk Perkempun. Yakni Tulangnya Tulang. Ketiga, Separuh dari jumlah uang Perkempun diberikan kepada Perbibin, yakni saudara perempuan dari ibu si gadis. Keempat, Sirembah Kulau, sebutan untuk saudara perempuan dari ayah si gadis. Sirembah kelau diberikan sekitar Rp. 26.000. Kelima, Sabei, yakni saudara perempuan si gadis. Biasanya diberikan sekitar Rp. 36.000. Dan yang keenam, Senina, saudara ayah yang tidak semarga dengan si gadis. Biasanya diberikan sekitar Rp. 16.000.  Jumlah ini tidak baku, namun untuk pembagiannya, harus lebih banyak berei-berei daripada perkempun, dan begitulah seterusnya sesuai dengan urutannya.

Setelah itu disepakati, maka ditentukan pulalah kapan untk Nganting Manuk, berapa biaya pesta, waktu menikah, dan kapan dilaksanakan Erdemu Bayu atau pesta.

Secara  harfiah, nganting manuk diartikan “menenteng ayam”. Tahap nganting manuk menanyakan tentang  kesenangen ate (keikhlasan) pihak kalimbubu tapi sifatnya hanya  bunga-bunga ranan (basa-basi) karena sudah dibicarakan sebelumnya pada tahap  ngembah belo selambar. Pada umumnya pembicaraan pada  nganting manuk ini tetap sama dengan apa yang dibicarakan pada ngembah belo selambar.

Erdemu Bayu atau pesta merupakan inti acara proses perkawinan adat Karo. Dikatakan inti, karena dalam penyelenggaraan pesta inilah dilaksanakan pembayaran hutang adat yang harus disampaikan oleh pihak orang tua laki-laki dan orang tua perempuan. Orang tua laki-laki membayarkan hutang adat kepada singalo ulu emas, sedangkan orang tua calon mempelai perempuan membayar hutang adat kepada singalo bebere. Pelaksanaan pesta perkawinan ini diselenggarakan di tempat tinggal perempuan.

Erdemu Bayu diawali dengan memberian hantaran pihak laki-laki yang diserahkan kepada keluarga pihak wanita yang selanjutnya diserahkan kepada kedua mempelai. Dengan diiringi musik keyboard dan tor-tor karo, Berei-berei dan perkempun memberikan satu ekor ayam hidup, tilam, bantal, dan perlengkapan dapur lainnya. Satu ekor ayam hidup ini juga mempunyai arti, yakni untuk dipelihara kedua mempelai agar ketika ada keluarga datang kerumah mereka, ayam itulah yang dihidangkan. Sedangkan Perbibin memberikan bantal, tikar, dan satu helai kain panjang.

Setelah itu, giliran pihak lelaki untuk memberikan Ulu Emas. Ulu emas adalah uang yang harus diberikan untuk tulang sebanyak jumlah batang unjuken.  Dan juga Ciken-ciken, yakni uang yang diberikan untuk tulangnya tulang sebanyak 2/3 dari Ulu Emas.

Acara selanjutnya, masuklah ke acara nasehat untuk pengantin yang disampaikan dari keluarga kedua belah pihak. Nasehat ini disampaikan oleh orang tua dan keluarga besar secara bergantian. Nasehat ini diharapkan agar mempelai bisa pandai-pandai mengarungi bahtera rumah tangga nantinya. Setelah nasehat selesai, langsunglah masuk ke acara makan siang bersama.

Setelah makan siang, tibalah pada acara pengantaran kedua mempelai kerumah lelaki oleh seluruh keluarga kedua belah pihak. Setibanya dirumah mempelai pria, dilaksanakanlah acara mukul, yaitu memberi makan pengantin oleh orang tua mempelai wanita. Makanannya adalah nasi dan ayam yang dimasak dan disusun lengkap dengan semua anggota tubuh ayam tersebut. Memberi makan ini adalah pemberian makan terakhir orang tua kepada anak perempuannya.

Jika telah selesai, keluarga mempelai wanita tidak boleh pulang semua. Harus ada keluarga yang menginap satu malam dirumah lelaki. Kalaupun ada yang pulang, hanya sebaian saja. hal ini bertujuan untuk mempererat hubungan kekeluargaan kedua belah pihak.

Keesokan harinya, keluarga mempelai pria yang menginap semalam diberikan cimpa (makanan khas karo yang terbuat dari beras), nasi, dan lauk pauk lengkap sebagai oleh-oleh yang dibawa pulang kerumahnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *