SMA Negeri 4 Pematangsiantar “102 Tahun Perjalanannya, Ia tercatat Sebagai Benda Cagar Budaya”

 

Bangunan SMA Negeri 4 Pematangsiantar adalah sekolah tertua di kota Adipura pada tahun 1993 itu, berdiri sejak tahun 1910, berarti sudah 102 tahun bangunan ini berdiri. Dijadikan sebagai benda cagar budaya karena mempunyai nilai sejarah, hal ini dibuktikan dari bangunan tua khas bangunan Belanda. Tak banyak yang mengetahui secara pasti kronologis sejarah SMA Negeri 4 Pematangsiantar ini, termasuk kepala sekolah, guru atau pun masyarakat sekitar. “Sebenarnya saya tidak tau jelas sekali tapi secara garis besar ini memang bangunan belanda, berdiri disekitar tahun 1910” jelas Drs. Helmi, M. Pd, selaku sekolah saat ini. Walaupun seperti ini, sekolah yang menjadi sasaran dan favorit siswa SMP ini mempunyai arsip sejarahnya:

Lokasi SMA Negeri 4 Pematangsiantar ini sangat unik, dan keunikan ini pun menjadi alasan mengapa sekolah ini dikatakan benda cagar budaya. Sekolah yang terletak di kota yang terletak ditengah-tengah Kabupaten Simalungun ini diapit oleh tiga jalan besar bentuk segitiga yang ketiga ujungnya menyatu dan membentuk sudut lancip, yaitu jalan Sutomo Ujung yang bersebelahan dengan lokasi makam pahlawan dan pajak bundar pantoan (dahulu) sekarang gedung PT. Palapa Shopping Centre sekarang lagi (5-7 tahun terakhir ini) menjadi pusat pertokoan Ramayana. Jalan yang kedua ada jalan Merdeka Ujung yang bersebelahan dengan gedung olahraga (GOR) dibangun masa walikota Letkol Sanggup Ketaren dan SMP Negeri 1 Pematangsiantar. Yang terakhir, jalan Pattimura, jalan yang membentang dari titik jalan Sutomo sampai ke jalan Merdeka.

Sejarah gedung SMA Negeri 4 Pematangsiantar

Sekolah ini berdiri sejak tahun 1910, dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada awalnya bangunan ini memang bukan bangunan yang digunakan untuk aktifitas pendidikan, tahun 1915-1919 bangunan ini difungsikan sebagai kantor officer Hindia Belanda. Setahun setelah itu, barulah bangunan ini dipakai menjadi aktifitas memburu ilmu, Noormaal School, sekolah yang dieluti oleh anak-anak bumiputra, Timur Asing dan anak-anak golongan Eropa sekitar tahun 1920 hingga tahun 1934. Di tahun 1935-1942 gedung ini beralih fungsi menjadi kantor pengadilan Laandraad. Lagi-lagi beralih fungsi, pada tahun 1942-1945 gedung ini menjadi markas Tentara Jepang. Bangunan ini memang penuh sejarah, banyak yang menggunakan gedung ini dengan berbagai keperluan. Hingga tahun 1945-1947 gedung ini dipakai menjadi kantor pegawai negeri sipil pengungsi di kota pematangsiantar. Kemudian pada tahun 1947-1948 gedung menjadi markas militer kembali, yaitu militer Belanda rasa Agresi. Kemudian pada tahun 1949-1951 gedung pun kembali digunakan untuk sekolah, kweek school (dahulu disebut SGB, Sekolah Guru Bantu). Berlanjut pada tahun 1951-1965 gedung menjadi sekolah Guru Tingkat Atas (SGA) Negeri. Tahun 1966-1989 gedung menjadi sekolah pendidikan guru (SPG) Negeri. Mulai tahun 1989 hingga saat ini gedung menjadi SMA Negeri alih fungsi (peralihan dari SPG Negeri menjadi SMA Negeri) dan seterusnya menjadi SMA Negeri 4 Pematangsiantar.

Selain lokasinya yang unik, sejarah ini juga menjadi alasan yang menjadikan SMA Negeri 4 Pematangsiantar. Sejarah ini juga lebih bernilai dengan diketahuinya Hoof School/ Headmaster atau kepala sekolah yang pernah memimpin saat gedung berfungsi sebagai sarana pendidikan. Diawali oleh Mr. Meerwald pada tahun 1949-1951, dilanjutkan oleh J. Siregar tahun 1951-1966, kemudian pada ahun 1966-1975 dibawah kepemimpinan Drs. TM. Hutauruk, tahun 1975-1985 oleh Drs. J. Manurung, diteruskan oleh R. Tampubolon, BA pada tahun 1985-1990. Setelah tahun 1990-2010, tidak tahu pasti tahun berapa saja ia memimpin, namun nama kepala sekolah ditahun itu adalah Drs. PM. Sitinjak, E. Panggabean, Dr. Gultom, M. Sitohang. Hal ini disampaikan oleh Ibu Poniati selaku PKS 2 SMA Negeri 4 Pematangsiantar. Mulai tahun 2010 sampai sekarang sekolah ini dipimpin oleh Drs. Helmi, M. Pd. Pencatatan sejarah ini dibuat oleh pemilik kebudayaan kependikbud Kodya Pem.Siantar tanggal 21 Agustus 1993.

Mulai tahun 2006 sampai saat ini ada wacana SMA Negeri 4 Pematangsiantar akan dipindahkan di jalan sibayak, daerah yang jauh dari pusat kota. Karena SMA Negeri 4 Pematangsiantar terletak di pusat kota. Suasana kota akan mengganggu ketenangan belajar, sehingga belajar menjadi tidak kondusif. Setelah sekolah ini dipindahkan, rencananya bangunan itu akan dirusak dan akan dijadikan hotel, gedung megah, dan mall.  Tentang perusakan bangunan cagar budaya ini telah banyak penolakan dari pihak sekolah, guru, siswa, alumni dan masyarakat melalui demo, aksi penolakan melalui tulisan dan online. Penuturan salah satu alumni sekolah ini, Ferdinan Saragih dalam blognya mengatakan bahwa ia nyaman-nyaman saja belajar disini dan bahkan ia menambahkan bahwa siswa tamatannya juga banyak yang berhasil.

Namun apalah daya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hal ini dijelaskan kepala sekolah “tanah ini memang tanah pemerintah kota, kalau masalah rusak merusak itu masalah pemko, karena ini tanah pemko. Karena banyak penolakan, saya juga tidak tahu pasti keadaannya sekarang, yang pasti saat ini saya ditugaskan sebagai kepala sekolah untuk menggabungkan dan memusatkan pendidikan di SMA Negeri 4 Pematangsiantar jalan Pattimura ini”. (Jannah Tambunan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *